Kembali lagi

Sepertinya, saya punya love-hate relationship dengan wordpress. Dulu saya sudah berkomitmen untuk menulis lebih rajin lagi. Eh, ternyata meleset.

Sebenarnya saya punya beberapa excuse untuk ini. Tapi, biarlah sekedar jadi evaluasi saya pribadi buat saja. Ada banyaak sekali hal-hal yang bisa ditulis, tapi yah, males mengalahkan segalanya. Padahal saya juga tidak sibuk-sibuk amat. Setidaknya tidak sesibuk pak Budi Rahardjo yang masih bisa rutin menulis walau jadwalnya seabrek.

Memang bener kali ya, start is hard, but commitment is harder. Hahaha

Iklan

Orang Asing

Seorang Bapak tiba-tiba mendekati saya sembari lirik-lirik ke handphone saya. Ia memakai rompi khas petugas parkir. Kebetulan saya lagi membuka feed Instagram sambil istirahat di Hutan Kota, setelah lari keliling daerah situ sore tadi.

“Mas, hapenya baru ya”, sahutnya setelah saya awali dengan nanya “Ada apa pak?”

“Ah, ndak pak, udah lama. Sejak dari 2015″, jawab saya.

“Berapaan tuh mas?”, sambil tiba-tiba mengambil hape di tangan saya. Padahal headset saya pun masih terpasang di hape itu.

“Dulu sih, 2 jutaan pak”, jawab saya sekenanya.

Dan kemudian percakapan pun berlanjut tentang satu-dua hal sebelum saya jalan kaki pulang ke rumah.

Di jalan, saya jadi terpikir sesuatu. Rasanya, konsep “orang asing” cukup asing di kebudayaan Jawa*. Semua adalah sedulur, dan sah-sah saja menyapa orang secara random di tengah jalan.

Lanjutkan membaca “Orang Asing”

Ayah, ibuk dan pendidikan

Di hari pendidikan ini, izinkan saya bicara pendidikan sejenak.

Saya pikir pendidikan adalah nafas keluarga saya. Kedua orangtua saya adalah guru. Guru SMP dan SMA. Sejak kecil, sekitar umur 5 tahun, saya ingat sekali saat saya sering menangis ketika ditinggal ayah maupun ibuk saya untuk mengajar, yang ujung-ujungnya saya harus “ditipu” agar mereka bisa mengajar. Waktu itu, keduanya mengajar di tempat yang sama, SMK Maarif, sekolah swasta yang kisah mirip-mirip laskar pelangi: kekurangan murid. Meski perbedaanya pun jauh. Di kisah Laskar Pelangi, anak-anaknya dikenal cerdas. Di SMK Maarif ini bagian cerdasnya menghilang.

Salah satu cerita yang sering diulang-ulang ayah saya adalah, betapa keras perjuangannya untuk kuliah.

Lanjutkan membaca “Ayah, ibuk dan pendidikan”

Write or not to write

My head was full of ideas lately. I don’t where it comes, but it’s blooming inside my mind for a whole week. I’d like to write all books I had read. Some time later, my fingers are itchy to write down my joyful experiences.

But when I’m looking at my to do list, I always shouted “why????” to how many things I have to do.

So, it’s all about myself to decide, to write or not.

Kudos for myself. 💪

Contextual learning

Kemarin malam, saya baru saja merampungkan tulisan saya tentang topik yang agak berat tentang analisa statistik suatu berita. Pakai markdown pula. Fyuh…

Saya bersyukur tulisan itu selesai dalam 4 jam, karena saya harus cross-check kesana kemari tentang analisa yang saya buat. Haha

Tepat setelah saya selesaikan tulisan itu, tiba-tiba saya sadar, kalau ternyata saya banyak sekali belajar dari contoh nyata. Bahasa ilmiahnya, contextual learning.

Lanjutkan membaca “Contextual learning”

Segelas cokelat dan tugas akhir

Hari ini, saya mulai lagi aktivitas yang sudah saya ceritakan panjang lebar di sini dan sini. Sebenernya rasa males itu masih ada sih, tapi kalau tidak dilawan, sepertinya juga nggak bakala mulai-mulai.

Karena permulaan itu yang paling susah.

Jadi saya paksakan saja buka terminal, login ke komputer server dan mulai ngoding dikit-dikit. Saya mulai dari mengingat catatan tugas akhir kemarin dan menjelajahi history apa saja yang ada di server saya.

Untungnya kemarin waktu belanja makanan saya nemu cokelat bubuk. Cukup murah juga, 2000 rupiah per sachetnya. Akhirnya saya seduh juga itu cokelat, itung-itung nemani di tengah dinginnya lab jaringan.

IMG_20170405_213823.jpg
Segelas cokelat dan sedikit bocoran tugas akhir saya

Dan ternyata enak juga tuh. Meski cokelat generik (saya tau ini cokelat “oplosan”, alias cuma sekian persen aja yang dari cokelat. Lainnya gula. Haha) tapi jempol juga buat diminum pengganti kopi. 👍

Asyiknya, kemarin saya beli agak banyak. Jadi stok minuman saya bakal aman untuk beberapa hari. Kayaknya sih, cokelat serbuk ini bakalan cepet habis di tokonya.

Mau?