Tentang Rezeki

Semenjak kelulusan beberapa bulan lalu, banyak nasihat bijak seolah-olah ditujukan kepada saya. Saya tau sih, kadang-kadang itu guyon, kadang juga serius. Tapi untungnya orang tua saya termasuk orang kalem. Jadi tidak gampang kepancing karena sudah satu frekuensi. Haha

Ketika ada acara keluarga tadi siang, saya pun (lagi-lagi) dikasih petuah. Tapi rasanya berbeda. Efeknya terasa sampek sekarang dan mungkin sampek masa-masa kedepan. Mungkin karena yang menyampaikan anak dari budhe saya sendiri, jadi seakan-akan tahu kondisi sekarang.

Lanjutkan membaca “Tentang Rezeki”

Iklan

Kenapa orang Quraisy mengatakan “Demi Allah”?

Dulu ketika saya membaca suatu teks entah itu di buku maupun hadits-hadits, saya menemui suatu bahwa orang kafir Quraisy berkata seperti ini,

“Demi Allah, aku akan melakukan sesuatu kepada si fulan!”

Itupun tidak satu dua kali. Berkali-kali saya menemukan teks tersebut. Saya mengernyit dan penasaran: bukankah mereka adalah seorang musyrik, yang menurut akal sehat saya tidak mengenal Allah?

Lanjutkan membaca “Kenapa orang Quraisy mengatakan “Demi Allah”?”

Lari

Kalau ditanya olahraga yang paling gampang, menruut saya lari. Modalnya murah, cukup sepatu olahraga. Atau bisa saja tanpa alas kaki.

Sejak setahun-dua tahun terakhir, saya mencoba untuk merutinkan olahraga. Diracuni oleh abang senior saya di kosan, Mas Satria, dulu mulai tahun 2016 an saya mulai ikut muter-muter di stadion ITS buat jogging tiap Ahad sore.

Dulu, waktu SMA, paling-paling saya futsal. Nah gara-gara jadwal kuliah yang berantakan –atau saya aja yang ga bisa ngatur waktu–, saya ga pernah lagi futsal. Soalnya olahraga kolektif. Temen ngajak, saya ga bisa. Vice versa.

Lanjutkan membaca “Lari”

Tempat itu bernama Al Quds

“Tempat itu bernama Al Quds”, sahut khatib shalat Jum’at di masjid siang tadi, “dimana Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam mencintainya, hingga menyebut shalat di tempatnya hingga lebih baik 500 kali daripada masjid lainnya”.

Kemudian saya mendapati matanya memerah, menahan haru yang mendera.

Sejenak kemudian, suaranya bergetar, para jamaah khusyuk mendengarkan lanjutan khutbahnya.

Lanjutkan membaca “Tempat itu bernama Al Quds”

Jalan yang panjang

Sebagai orang Islam, ada satu hal yang sangat sederhana implementasinya, namun cukup lama juga jalan ibadahnya. Namanya sabar.

Kemarin malam, teman saya menuliskan sesuatu di caption instagramnya

Tentang kampus ini.
Dulunya saya tak pernah membayangkan akan kuliah di sini. Di kampus ternama inginnya. SNMPTN nekad ambil lintas jalur, IPA nyebrang ke IPS, ambil univ ternama. Gagal. .. Dan kemudian mencoba meluruskan niat lagi. Inget dulu almarhum bapak bilang, kuliah di IAIN Surabaya saja, biar enak dekat. Kemudian ibuk juga bilang, Intinya golek ilmu. SBMPTN langsung ambil pilihan pertama di Ekonomi Syariah IAIN Sunan Ampel. Dulunya masih IAIN. Dulunya agak malu juga ngakuin kuliah di sini. Dulu kampusnya masih jauh banget dari yg nampak sekarang. Kuno, lawas. .. Namun, memang Allah paling tahu menata hambaNya. Saya di sini banyak belajar. Tak hanya ilmu kuliah, saya punya kesempatan lebih untuk belajar usaha, organisasi, dan banyak lainnya. Banyak belajar agama di pakarnya.
Dan memang, Allah selalu memberikan jalan terbaik. Saya berkembang pesat di sini. Alhamdulillah punya banyak kesempatan. Dan alhamdulillah, masih diberikan kesempatan untuk lanjut di sini, lanjut magister sambil bantu ngajar mata kuliah. .. Ada satu pembelajaran yg sangat kuat saya dapat di sini, di manapun tempatnya, asal kamu memberikan energi besar di dalamnya, maka hal positif akan menjadi jawabnya ^^

Saya terdiam beberapa saat dan mulai menuliskan jawaban yang cukup panjang juga, berterima kasih karena ternyata saya tidak sendiri.

Ternyata kita berada di circle yang sama.

Lanjutkan membaca “Jalan yang panjang”

Mengkritisi suatu yang ilmiah

Bismillahirrahmanirrahiim.

Baru saja saya membaca catatan Dr. Adian Husaini dalam linimasa Facebook saya. Tercatat baru 50 menit yang lalu ketika tulisan ini dibuat, beliau menuliskan opini menariknya tentang “Tuhan Banyak Agama, Pandangan Sufistik Ibn ‘Arabi, Rumi dan al-Jili” (Mizan, 2011).

Bagi yang Belum tahu Dr. Adiah Husaini, beliau adalah seorang doktor yang sering sekali mengkritisi konsep sekulerisme, plurasime dan liberalisme di Indonesia. Kolom rutinnya di hidayatullah.com pun menarik sekali. Renyah, gayeng, namun tetap ilmiah.

Namun dari semua tulisan beliau, saya kagum dengan satu hal: konsistensi kritik ilmiah.

Lanjutkan membaca “Mengkritisi suatu yang ilmiah”

“There are two types of person”…

… as one of my best mate said, while she was typing at her phone and squinting at me. “There are people who’s trying to make as much friends as they can, while others are not”. I listened lazily and keep staring at my phone to gain a perfect score in Angry Bird game.

“But don’t get me wrong. Those with a little friends are usually have a deepest connection, and value their friends so much”

Now she got my attention. I must admit that I admire her despite we had a lot of debates at the same time.

Lanjutkan membaca ““There are two types of person”…”