Hal yang baru

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya mendekat sambil menanyakan sesuatu yang saya sendiri nggak kepikiran, “Eh, blog kamu kok kosong? Baru dihapus ya kontennya?”. Saya sendiri kaget. Barangkali waktu itu dia kepo lihat profil twitter saya, dan nge-klik URL yang ada disana.

Waktu itu saya cuma jawab sekenanya, “ya pengen aja” sambil nyengir pergi. Sebenarnya ada alasan-alasan filosofis dibaliknya. Iya, filosofis, karena emang berat alasannya. Haha

Kalau dihitung-hitung, saya termasuk seorang pemain lama di dunia blog. Beneran. Blog ini adalah blog pertama saya yang lahir karena dunia internet Indonesia lagi ramai-ramainya dengan blog sekitar tahun 2007, ketika saya masih menginjak SMP. Waktu itu pula saya juga lagi termotivasi untuk ikut lomba blog di kota saya, yang akhirnya menorehkan prestasi pertama saya berupa handphone Flexi. 👊🏽

Waktu itu pula, saya mengenal para sesepuh blog seperti pamantyo dan ndorokakung dengan perspektif uniknya, mas dzofar yang suka ngelawak dan maseko dengan ulasan teknologinya. Saya mengenal mereka melalui layar PC lawas saya layaknya tetangga sendiri. Begitu pula dengan situs terpopuler waktu itu, ayongeblog.com yang terasa seperti tempat silaturahim para blogger-blogger terkenal. Rasanya saya begitu dekat dengan mereka meski dari membaca tulisan-tulisan. Waktu itupun, para blogger masih sangat “polos” dengan mengindahkan SEO dan tetek bengek lainnya. Pokoke nulis!

Begitupun saya, yang waktu itu sangat tergila-gila dengan sains. Saya ingat bahwa saya memposting gila-gilaan, hampir tiap hari tentang info astronomi dan teknologi. Saya merasa terlecut ketika membaca komentar-komentar yang bertebaran di shoutbox* ataupun di kolom komentar, meskipun hanya sekedar “nais inpo gan”. 😬

Saya pun juga sempat ngamuk nggak karu-karuan ketika melihat tulisan original saya dicomot kru jurnalis SMP saya tanpa menyebutkan sumber. Padahal tulisan tersebut membutuhkan waktu berhari-hari membaca referensi bahasa Inggris –dengan kemampuan seadanya– untuk dijadikan sebuah tulisan.

Namun beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk mengarsipkan seluruh tulisan sejak saat itu karena idealisme perfeksionisme ala-ala saya.

two-kinds-of-people-illustration-7
Sumber: DigitalSynopsis

Jika ada dua pilihan seperti di atas, bisa ditebak saya adalah golongan kanan. Saya tidak akan membiarkan satu notification pun lolos meski itu adalah japri berupa barang jualan teman saya dan meski saya harus membalasnya. Sifat ini pun terbawa dalam konteks blog ini: bahwa blog cuma saya khususkan tentang cerita dan pandangan saya. Padahal, menurut sejarah, blog ini berisi gado-gado mulai programming, kegalauan, share link, dsb. Dan akibatnya sebuah pilihan harus dipilih antara dua opsi. Antara menghapus posting yang tidak sesuai, atau memulai tulisan-tulisan yang benar-benar baru.

Akhirnya saya memilih opsi kedua.

Iya barangkali itu sebuah kebodohan melihat bahwa sebenarnya arsip itulah yang akan “mendewasakan” saya. Melalui tulisan-tulisan 10 tahun lalu, sebenarnya saya bisa melihat bagaimana saya belajar dan memahami lingkungan sekitar. Tetapi sikap perfeksionisme saya memang saya akui mematikan.

Sebagai seorang perfeksionis pasti paham, bahwa sifat ini bagaikan pisau bermata dua. Dua sisi yang sama-sama tajamnya. Sifat ini sudah membantu banyak dalam berbagai hal dan berjuta tugas. Namun sayangnya, saya juga harus takluk menuruti sifat ini dalam arsip tulisan blog ini. Ketidakteraturan konten blog akan membunuh saya.

Akhirnya saya memilih untuk mengarsipkan konten blog lama. Konten yang telah membawa saya menuju top blog untuk keyword tertentu. Konten itu juga yang mewakili tiap fase pikiran saya, dari transisi seorang pelajar SMP sok tau hingga mahasiswa yang masih gak tau apa-apa. Baper? Agak, tapi nggak banyak-banyak. Ahaha

Saya tidak menyesal. Alih-alih saya justru belajar bagaimana mengendalikan sifat itu. Selain itu saya juga belajar mencari win-win solution to deal with perfectionism. Perfeksionisme memang bagai “kutukan”, namun bisa dikendalikan.

Yah, pada akhirnya, selamat membaca hal-hal yang baru di blog ini. Saya berusaha untuk hanya menulis hal-hal menarik dalam keseharian saya. Saya juga berusaha untuk tidak mencampuradukkan hal-hal tidak relevan –menurut perspektif saya– kedalam blog ini. Jika tidak, ketika jiwa perfeksionis datang ke pikiran saya, bencana pasti akan datang. Dan kita tahu apa itu. Hahaha

Tabik.

Iklan

Satu pemikiran pada “Hal yang baru

  1. Ping-balik: Titik jenuh – Abid Famasya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s