Titik jenuh

 

Kemarin, iseng-iseng saya ngetwit ini.

Saya teringat sebuah teori di kelas ekonomi sewaktu saya SMA dulu yang rasanya cocok sekali dengan kondisi saya saat ini. Yah, meski saya dulu sering tidur-tiduran waktu diajar ekonomi di kelas satu SMA (hingga pernah diusir keluar, serius!), namun ada beberapa poin yang menurut saya menarik di pelajaran itu.

Namanya penggunaan marginal, atau marginal utility.

Katakanlah, di suatu hari kita sangat lapar. Tentu kita akan mencari makanan bukan? Ketika kita menemukan makanan, katakanlah Ibuk membelikan 10 batang cokelat, rasanya ingin sekali menghabiskan semuanya. Awalnya saya ambil satu batang. Karena begitu lapar, setelah menghabiskan batang pertama, saya langsung saja ambil batang kedua. Belum cukup, saya ambil batang ketiga.

Namun apakah saya bisa habiskan semuanya? Tentu tidak.

Ada suatu titik dimana betapapun enaknya cokelat itu, kita akan jenuh dan bosan. Setiap batang cokelat memiliki nilainya tersendiri, yang dinamakan marginal utility. Di tiap batang yang kita makan, kepuasan yang kita dapat akan semakin menurun. Di kasus saya, kepuasan itu mencapai puncaknya di batang ketiga. Bu Rini –guru ekonomi saya dulu– menyebutnya titik jenuh. Ketika kita berada di titik jenuh, tidak ada keinginan lagi kecuali bosan.

Dan rasanya saya berada di titik jenuh itu saat ini.

Screen Shot 2017-03-31 at 18.54.43

Saya lagi nggak mood sama sekali ngerjain kewajiban-mahasiswa-semester-akhir. Kontras sekali di semester 7 kemarin. Kemarin, saya bela-belain nggak pulang waktu Idul Adha buat ngerjain TA (tugas akhir). Sekarang, hidupin server (dimana TA saya tinggal) pun mikir beberapa kali. Ngoding juga malas-malasan.

Lalu apa sebab?

Sebenarnya saya nyadar dari dulu kalau selain saya selain perfeksionis, saya juga mudah bosan. Saya sering nggak kerja kalau kerjaannya sudah pernah saya lakukan. Makanya kemarin, topik TA yang saya ambil pun sebenernya saya belum tahu sama sekali cara ngerjainnya. Sisi idealis pun muncul. Makanya semester lalu saya bisa ngebut. Eh, begitu saya tahu caranya, kok lama-lama jadi malas. Soalnya sekarang tinggal mengerjakan sesuatu yang saya sudah sering kerjakan sebelumnya. Hahaha

Saya berada di titik jenuh. Idealismu untuk memberi fitur A, B dan C di TA saya dulu rasanya memudar. Dan ternyata saya tidak sendiri. Teman-teman saya pun, ketika saya tanyakan, juga mengalaminya.

Dari sini saya belajar dua hal.

Yang pertama, salah satu cara terbaik untuk meningkatkan performa adalah memberi tantangan. Semakin besar tantangannya, maka (semestinya) keterampilan akan semakin terasah. Tantangan adalah mesin utama kemajuan manusia yang mengarahkan peradaban pada kemajuan masa berburu, meramu hingga revolusi industri. #asik

Yang kedua, ternyata rasa penasaran memiliki marginal utility. Ketika rasa penasaran terpenuhi, nilai marginal utility pun turun. Mungkin butuh rehat sejenak sembari menunggu rasa penasaran itu muncul lagi.

Dan akhirnya salah satu solusi terbaik pun saya ambil.

Pernah merasakan hal yang sama?

PS: Ada penjelasan yang bagus tentang marginal utility di Khan Academy disini. (y)

Iklan

3 pemikiran pada “Titik jenuh

  1. Ping-balik: Two books, in two days – Abid Famasya

  2. Ping-balik: Segelas cokelat dan tugas akhir – Abid Famasya

  3. Ping-balik: Contextual learning – Abid Famasya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s