Naik becak

Sering naik becak? Saya dulu hampir tiap hari.

Waktu jalan-jalan pagi tadi, saya nemu banner menarik yang kebetulan nempel di sebuah SD dekat alun-alun kota saya, Trenggalek. Isinya menarik juga.

“Sayang anak”

 

Sebagai seorang millenial (anak 90 an) yang lahir di kota kecil, saya beruntung masih bisa diantar waktu ke sekolah. Bukan sama ayah dan ibuk saya sih –karena harus berangkat ngajar, tapi oleh Pak Parni, tetangga sendiri yang jadi tukang becak. Saya harus standby jam 6.15 pagi di depan rumah buat nunggu Pak Parni datang. Waktu itu jam 6 masih dingin banget, belakang rumah pun masih sawah yang luas. Biasanya saya dapat urutan jemput pertama karena berangkatnya pun bareng-bareng sama teman yang lain.

Kalau diingat-ingat waktu itu, lucu juga. Satu becak bisa diisi sampai 6 anak. Tempat duduk biasa dipakai dua sampai tiga anak. Di atasnya masih bisa diisi dua anak lagi gara-gara dikasih plang kayu. Dan yang ilegal, di bagian bawah becak (yang normalnya tempat sandaran kaki) bisa dipakai dua sampai tiga anak lagi. Itu ilegal kalau ketahuan ayah ibuk. Kalau nggak, ya disitu tempat favorit saya. Alasannya kaki saya bisa bebas injak injak aspal waktu becaknya jalan.

Pulangnya pun begitu. Tapi karena tiap SD pulangnya nggak bareng, saya biasanya dijemput sendiri. Yang paling sering bareng Dian, anak SD sebelah yang, kayaknya sih, pinter. Dia sering bawa buku sampai dijinjing di tangan. Saya mah, pragmatis. Selama ada tas, ngapain dijinjing kan? Hahaha

Dari sini saya jadi ingat ceritanya pak Chappy Hakim tentang parasut (silakan dibaca kultwitnya). Pak Parni adalah salah satu pelipat payung saya. Orang yang nggak sadar berpengaruh dalam membangun personality saya: mengenalkan sama anak-anak SD lain, suka nraktir saya, dan kadang-kadang ikut-ikutan ngasih nasihat saya biar jadi anak rajin. Pak Parni juga suka iseng saja say hello pada orang asing di jalan, yang mana hal itu salah satu budaya mataraman yang saya suka.

Gara-gara naik becak ini juga, saya jadi jarang naik motor. Saya suka kendaraan yang slow ala-ala sepeda dan becak buat menikmati sekitar. Saya belajar naik motor pun waktu SMP. Dan kalau bisa pakai sepeda, ya ga bakal pakai motor.

Setelah pensiun (iya beneran, tukang becak juga pensiun), tiba-tiba saya ketemu Pak Parni jadi imam masjid dekat rumah saya. Bacaannya lumayan bagus. Dan yang pasti, lebih barokah lagi apa yang dilakukan sekarang.

Ngomong-ngomong, hari ini adalah hari buku sedunia.

Selamat hari buku sedunia!

And may the force be with you, Pak Parni.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s