Ayah, ibuk dan pendidikan

Di hari pendidikan ini, izinkan saya bicara pendidikan sejenak.

Saya pikir pendidikan adalah nafas keluarga saya. Kedua orangtua saya adalah guru. Guru SMP dan SMA. Sejak kecil, sekitar umur 5 tahun, saya ingat sekali saat saya sering menangis ketika ditinggal ayah maupun ibuk saya untuk mengajar, yang ujung-ujungnya saya harus “ditipu” agar mereka bisa mengajar. Waktu itu, keduanya mengajar di tempat yang sama, SMK Maarif, sekolah swasta yang kisah mirip-mirip laskar pelangi: kekurangan murid. Meski perbedaanya pun jauh. Di kisah Laskar Pelangi, anak-anaknya dikenal cerdas. Di SMK Maarif ini bagian cerdasnya menghilang.

Salah satu cerita yang sering diulang-ulang ayah saya adalah, betapa keras perjuangannya untuk kuliah.

Kakek nenek saya orang yang tidak terpelajar, meski kata ayah saya, ibu beliau sangat cerdas.

Waktu itu ayah adalah salah satu pendobrak di desanya, sebuah desa terpencil di sudut kota Lumajang yang –waktu itu– sebagian besar masyarakatnya merasa cukup dengan SD. Nasihat bahwa “cukuplah sampai SMP” pun diterima ayah. Namun ayah tidak mau tahu, ia ingin sekolah SMA. Maka merantaulah ia ke kota, mengayuh sepeda sepanjang 40 kilometer demi masuk SMA favorit di kota.

Klise? Sinetron? Iya. Tapi ini nyata.

Dan ujungnya, ayah saya diterima di SMA itu. Dengan beasiswa.

Pendek kata, ayah lulus SMA. Ia pun ingin masuk kuliah di Malang. Namun apa ternyata panggilan lain lebih menarik hatinya.

Bukan, beliau tidak menghentikan pendidikannya. Namun paman saya, mengajak ayah saya menjadi guru di Mts. Iya beliau jadi guru di sehabis SMA. Usia yang sangat muda. Entah ayah digaji berapa waktu itu. Namun sepertinya tidak banyak, karena Mts itupun masih baru. Belum diakui.

Ayah mengajar satu tahun. Tahun berikutnya ayah masuk kuliah di IKIP Malang. Yang itu berarti beliau adalah sarjana pertama di desanya. Ayah pulang dengan bangga.

Setelah lulus, ayah mengajar di SMK Maarif yang saya ceritakan tadi. Namun, ketika diangkat PNS, beliau dimutasi ke daerah rural, 11 kilo naik-turun gunung.

Hingga sekarang.

Iya, sudah 20 tahun lebih ayah mengajar di daerah tersebut. Ia selalu berangkat pagi, pukul 5.30. Dulu, sebelum kami punya motor, ayah naik angkot. Sekarang beliau lebih suka naik motor.

Saya pikir 20 tahun adalah waktu yang cukup untuk meminta mutasi ke daerah kota, dekat rumah saya. Tapi ketika saya menanyakannya, ayah menjawab,

“Ndak dulu mas. Disana kekurangan guru yang mau ngopeni (merawat) murid. Ayah lebih dibutuhin disana”, sahutnya santai.

Darisitu saya sadar, jika ayah, yang dikenal tegas sama murid-muridnya, memiliki jiwa pengajar sejati. Ia benar-benar mengabdi di SMP tersebut meski harus menempuh perjalanan dua jam setiap hari.

Beliau mengajar dengan hati. Pilihan menjadi guru bukanlah berasal dari orangtuanya, “terpaksa” menjadi guru, atau ikut-ikutan tren waktu itu. Ayah menjadi guru karena beliau menyukainya secara sadar. Jiwa pendidik sudah mendarah daging di diri ayah.

Lama-lama saya jadi paham kenapa beliau sangat cocok dengan ibuk. Ibuk juga salah satu pengabdi terbaik yang saya tahu.

Cukup sering saya mendengar murid-murid ibuk mampir ke rumah, untuk mengabarkan keberhasilan mereka. Ada yang jadi polisi, melanjutkan kuliah, menjadi musisi, dll. Ibuk memang dikenal sebagai “penakluk” murid-murid bandel. Mereka adalah orang-orang yang ibuk selamatkan.

Begitu pula ayah, saya ingat ada seseorang yang dulunya adalah murid ayah, sekarang ia juga mengikuti jejak ayah jadi pengabdi pendidikan, mas Aris namanya. Beliau seorang guru SD.

Karirnya melejit, mulai dari guru SD, hingga kini dipercaya memimpin SD swasta tersebut. Ia juga pernah jadi guru ngaji saya waktu kecil. Seorang pendakwah.

Ketika ayah, ibuk, mas Aris dan murid murid mereka mampir, saya sering banget mendengar cerita mereka.

Pada momen itu saya paham, jika ayah dan ibuk berhasil mengubah momen murid-muridnya. Seperti saya yang teringat guru-guru saya yang mengantarkan saya ke titik ini.

Masih banyak sekali cerita-cerita yang saya ingat. Seperti ayah yang selalu membelikan oleh-oleh buku ketika beliau keluar kota hingga ibuk yang membebaskan saya mau bersekolah dimana mulai dari SD.

Terlalu banyak. Kamu akan merasakannya ketika ayah dan ibumu adalah pendidik.

Ayah dan ibuk mungkin bukan dokter yang sangat berjasa menyelamatkan nyawa orang, atau insinyur yang membangun alat-alat di bumi.

Namun beliau berdua, bersama guru-guru lain adalah pendidik, yang membuat para dokter, insinyur mengerti ilmu-ilmu tersebut.

Mereka pembangun pondasi ilmu pengetahuan. Bersama guru-guru lainnya.

Ibuk belumlah PNS hingga sekarang, begitu pula dengan ribuan guru lain di pelosok negeri. Mungkin masih ada juga yang seperti Ibu Mus dalam laskar pelangi, yang digaji beras.

Namun pengabdian mereka mengalahkan segalanya.

Saya, kamu yang membaca tulisan ini adalah hasil ketelatenan mereka. Ketelatenan mengajarkan aksara, angka, rumus luas lingkaran, kurva sinus, integral, statistik, ilmu bumi, sejarah, ilmu bahasa… tanpa bosan.

Jadi… Selamat hari pendidikan yah, buk, dan para guru lainnya. Semoga ilmu kalian selalu sehat dan ilmu yang diajarkan menjadi amal jariyah di yaumul mizan kelak.

Kami akan selalu mendoakan kalian.

Salam, seorang pelajar biasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s