Orang Asing

Seorang Bapak tiba-tiba mendekati saya sembari lirik-lirik ke handphone saya. Ia memakai rompi khas petugas parkir. Kebetulan saya lagi membuka feed Instagram sambil istirahat di Hutan Kota, setelah lari keliling daerah situ sore tadi.

“Mas, hapenya baru ya”, sahutnya setelah saya awali dengan nanya “Ada apa pak?”

“Ah, ndak pak, udah lama. Sejak dari 2015″, jawab saya.

“Berapaan tuh mas?”, sambil tiba-tiba mengambil hape di tangan saya. Padahal headset saya pun masih terpasang di hape itu.

“Dulu sih, 2 jutaan pak”, jawab saya sekenanya.

Dan kemudian percakapan pun berlanjut tentang satu-dua hal sebelum saya jalan kaki pulang ke rumah.

Di jalan, saya jadi terpikir sesuatu. Rasanya, konsep “orang asing” cukup asing di kebudayaan Jawa*. Semua adalah sedulur, dan sah-sah saja menyapa orang secara random di tengah jalan.

Ada suatu nilai bernama gayeng yang terus saya ingat dari ayah maupun mbah kakung saya. Gayeng adalah orang yang menyenangkan. Alias orang yang sangat menarik untuk diajak ngobrol. Bagi orang Jawa, orang seperti ini mudah sekali diajak ngobrol, karena cepat nyambung. Orang gayeng pun cepat akrab dengan orang lain, siapapun itu.

Konsep gayeng ini bagaikan tidak mengenal orang asing. Sah-sah saja, seorang yang jalan, mengucapkan “monggo Pak, Bu”, kepada seseorang yang duduk-duduk di tepi rumahnya. Hal yang sangat berbeda dengan apa yang saya rasakan ketika diberi kesempatan ke Jepang, beberapa bulan lalu.

Di Jepang, hak privasi individu sangat dilindungi. Memandang orang asing pun akan janggal, jika tanpa maksud. Ketika iseng-iseng saya tanya salah satu teman Jepang saya, ternyata kadang sesama rekan kerja pun tidak mengetahui tempat tinggal satu sama lain. Semua didasarkan dengan hubungan profesional.

Hal tersebut tidak berlaku bagi orang Jawa –atau mungkin juga budaya Sunda juga. Budaya profesional kadang campur aduk sama hubungan keluarga. Malam-malam konsultasi tentang pajak, atau minta diskon “keluarga” adalah hal yang sah-sah saja.

Tidak ada privasi bagi orang Jawa. Menanyakan rumah, status pernikahan, bahkan anak pun terasa normal. Tiba-tiba seorang teman nongol di depan rumah untuk main-main pun harus disambut baik. Jika tidak pernah berkunjung, malah kadang bisa dikira memutus persaudaraan. Nahlo.

Sebagai orang Jawa yang hidup dengan nilai ini, saya pun merasa punya keluarga yang jauh lebih besar. Rasanya senang saja menyapa orang-orang random di tengah jalan. Atau seperti tadi, tiba-tiba ditanyai secara acak pula. Kadang pula kita bisa belajar banyak dari kehidupan mereka. Jika beruntung, bahkan bisa kenal dekat, yang ujung-ujungnya bisa nambah relasi keluarga.

Bagi orang jawa, sebuah hubungan persaudaraan bisa dibentuk dari hal-hal acak seperti ini. Bahkan keluarga baru sekalipun…

IMG_20170521_095934
… seperti pernikahan ini

PS : Yang saya maksud suku Jawa adalah Jawa Timur dan Tengah. Sedangkan Jawa Barat menurut saya bersuku Sunda. Mohon koreksinya. :)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s