Mengkritisi suatu yang ilmiah

Bismillahirrahmanirrahiim.

Baru saja saya membaca catatan Dr. Adian Husaini dalam linimasa Facebook saya. Tercatat baru 50 menit yang lalu ketika tulisan ini dibuat, beliau menuliskan opini menariknya tentang “Tuhan Banyak Agama, Pandangan Sufistik Ibn ‘Arabi, Rumi dan al-Jili” (Mizan, 2011).

Bagi yang Belum tahu Dr. Adiah Husaini, beliau adalah seorang doktor yang sering sekali mengkritisi konsep sekulerisme, plurasime dan liberalisme di Indonesia. Kolom rutinnya di hidayatullah.com pun menarik sekali. Renyah, gayeng, namun tetap ilmiah.

Namun dari semua tulisan beliau, saya kagum dengan satu hal: konsistensi kritik ilmiah.

Mari kita lihat tulisannya yang baru saya sebutkan di atas: tentang kritik atas suatu karya doktoral di UIN Jakarta. Dr. Adian mengakui bahwa “usaha penulis buku ini dalam mengkaji pemikiran-pemikiran tiga tokoh sufi tersebut perlu diberikan apresiasi”. Saya salut dengan beliau yang mengakui bahwa suatu karya ilmiah patut diapresiasi. Beliau tidak langsung melakukan penghakiman bahwa itu hal yang salah, tetapi justru melakukan kritik konstruktif atas suatu karya ilmiah.

Ini hal yang tidak mudah bagi akademisi muslim sekarang. Dibutuhkan pikiran yang terbuka terhadap kultur akademis, serta analisis mendalam terhadap karya tersebut. Apalagi ini adalah karya doktoral sebesar 500 halaman. Sebuah kritik dengan “itu ga bener, kyai saya bilang gini kok” belumlah cukup. Hal ilmiah tidak bisa dibalas dengan pokoknya.

Dr. Adian mengakui bahwa ada konsep yang disebut Transcendent Unity of Religions, yang berupa paham bahwa seluruh agama di dunia berasal dari akar yang sama. Rupanya penulis buku ini berangkat dari asumsi tersebut. Dari dasar itulah, Dr. Adian membangun gagasannya dan mencoba memberi kritik menurut pandangan Islam.

Tidak semua orang memiliki kapabilitas yang sama dengan beliau.

Saya pikir inilah yang kurang dalam diri kita. Kebanyakan, kita melakukan counter terhadap suatu ketidaksetujuan menurut sudut pandang kita, alih-alih melakukannya dari sudut pandang orang lain. Padahal seorang yang kita kritik belum tentu memiliki tingkat pengetahuan yang sama dengan kita.

Dalam suatu hal LGBT misalnya, seseorang pernah bertanya: bagaimana sih LGBT itu dalam Islam? Sebagai seorang muslim, tentu standpoint saya kontra dengan hal tersebut. Namun saya paham dia adalah orang yang sangat ilmiah. Alasan dengan dalil al Quran yang mentah belum tentu cukup baginya.

Screen Shot 2017-11-28 at 07.24.55.jpeg

Jadi alih-alih langsung memberi dalil haramnya, saya ingin mengatakan dari sebuah sudut pandang yang sama, bahwa LGBT memang ada. Namun sebagai seorang muslim, kita harus punya ground truth akan petunjuk hidup yang benar, yaitu berasal dari Al-Qur’an. Di sinilah titik kesepahaman kita dimulai.

Berdasar Al Qur’an, kita tidak bisa menerima LGBT. Dari sini kita bisa beranjak. Kenapa “mereka” memaksakan kita membenarkan LGBT jika paham mereka sendiri plural, which is menganggap tidak ada kebenaran hakiki? Jika “mereka” menolak sikap kita yang menolak LGBT, berarti pluralitas “mereka” diingkari bukan? Jadi kuncinya adalah mulai dari titik yang sama.

Mari kita kembali ke tulisan Dr. Adian.

Suatu karya ilmiah haruslah dikritik melalui cara yang ilmiah pula. Hal yang ilmiah disini berarti kita harus punya ilmunya. Jika tidak punya ilmunya, lebih baik kita ucapkan “tidak tahu”. Biarlah para asatidz yang kompeten menjawabnya. Bukankah “tidak tahu” adalah setengah ilmu?

Kadang-kadang nafsu kita mengalahkan segalanya. Ketika kita kalah argumen, kita melakukan ad hominem, atau personal attack, sebuah logical fallacy yang diharamkan dalam kultur akademis. Atau jika tidak, kita menyebarkan berita hoax. Sikap seperti ini yang justru menjatuhkan kapabilitas kita.

Seorang ulama’ ekonomi Islam pasti tahu tentang sistem ekonomi modern.  Begitupun sekaliber Dr. Adian. Beliau sudah khatam tentang modern movement di dunia. Dasar logikanya kuat. Pengetahuannya pun luas. Saya percaya beliau tidak akan kalah jika disodori argumen-argumen dari filsuf seperti Nietzsche, paham feminis, maupun teori lain.

Semoga makin banyak akademisi-akademisi Islam yang berkarya seperti Dr. Adian Husaini, Dr. Hamid Zarkasyi, dll. Di dunia yang penuh perang pemikiran ini, kita butuh sosok-sosok pembaharu Islam yang mengikuti ritme zaman, namun tetap mengakar kokoh pada nilai yang benar.

Dan juga mari berdoa, agar esok keturunan kita menjadi salah satunya.

Tabik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s