Jalan yang panjang

Sebagai orang Islam, ada satu hal yang sangat sederhana implementasinya, namun cukup lama juga jalan ibadahnya. Namanya sabar.

Kemarin malam, teman saya menuliskan sesuatu di caption instagramnya

Tentang kampus ini.
Dulunya saya tak pernah membayangkan akan kuliah di sini. Di kampus ternama inginnya. SNMPTN nekad ambil lintas jalur, IPA nyebrang ke IPS, ambil univ ternama. Gagal. .. Dan kemudian mencoba meluruskan niat lagi. Inget dulu almarhum bapak bilang, kuliah di IAIN Surabaya saja, biar enak dekat. Kemudian ibuk juga bilang, Intinya golek ilmu. SBMPTN langsung ambil pilihan pertama di Ekonomi Syariah IAIN Sunan Ampel. Dulunya masih IAIN. Dulunya agak malu juga ngakuin kuliah di sini. Dulu kampusnya masih jauh banget dari yg nampak sekarang. Kuno, lawas. .. Namun, memang Allah paling tahu menata hambaNya. Saya di sini banyak belajar. Tak hanya ilmu kuliah, saya punya kesempatan lebih untuk belajar usaha, organisasi, dan banyak lainnya. Banyak belajar agama di pakarnya.
Dan memang, Allah selalu memberikan jalan terbaik. Saya berkembang pesat di sini. Alhamdulillah punya banyak kesempatan. Dan alhamdulillah, masih diberikan kesempatan untuk lanjut di sini, lanjut magister sambil bantu ngajar mata kuliah. .. Ada satu pembelajaran yg sangat kuat saya dapat di sini, di manapun tempatnya, asal kamu memberikan energi besar di dalamnya, maka hal positif akan menjadi jawabnya ^^

Saya terdiam beberapa saat dan mulai menuliskan jawaban yang cukup panjang juga, berterima kasih karena ternyata saya tidak sendiri.

Ternyata kita berada di circle yang sama.

Banyak juga teman SMA saya yang diputar jalannya oleh sang pemberi skenario terbaik. Teman saya itu, sebut saja pertama, adalah seorang anak yang cerdas. Seingat saya ia ingin kuliah di Yogyakarta, namun berakhir di Surabaya. Di jurusan yang berbeda, dan kampus yang berbeda pula.

Ada juga teman saya yang lain –sebut saja kedua–, juga sangat ingin kuliah di Yogya, namun Allah menunjukinya kuliah di Jember. Namun ia berada di jurusan yang ia inginkan namun kampus yang berbeda. Seingat saya ia juga tetap ingin kembali ke Yogyakarta suatu saat.

Si ketiga pun sama. Ia terdampar di Surabaya bareng saya. Meskipun ia berada di jurusan yang ia inginkan, namun berada di kampus yang berbeda dengan impiannya. Sedangkan saya, mirip dengan si pertama.

Saya kenal kenal mereka bertiga cukup baik. Orangnya cerdas-cerdas! Pantaslah jika mereka berada di universitas terbaik negeri ini. Usahanya segigih impiannya. Mereka menulis universitas-universitas impian di bucketlist mereka.

Namun ketika gusti Allah menawarkan skenario lebih baik, mereka menerimanya. Meski awalnya sulit.

… mungkin kamu membenci sesuatu, namun ia amat baik bagimu. Bisa jadi juga kamu menyukai sesuatu, namun sangat buruk bagimu…

Suatu nasihat dari kalamullah memang sangat terasa ketika kita mengalaminya sendiri. Ketika disodorkan ayat ini, Al Baqarah nomor 216 ini, Ibnu Qayyim rahimahullah, ulama yang zuhud itu memberi nasihat yang sangat menyentuh dalam karyanya, Fawaidul Fawaid.

Orang yang bodoh hanya melihat sesuatu itu pada permulaannya saja, seakan-akan perkaranya selalu susah, sengsara dari awalnya sampai akhir.

Sedangkan orang yang yang pintar berakal melihat sesuatu perkara pada tujuan akhirnya.

Dia melihat akhir semua perkara dan kemaslahatan dari perkara itu. Bahwa dibalik itu semua ada kebaikan yang besar bagi dirinya.

Membaca nasihat ini, saya tertegun. Betapa bodohnya saya ketika mengira tidak masuk universitas favorit sebagai “akhir dari dunia”. Siapakah kita yang mempertanyakan keputusan sang pemberi skenario terbaik?

Teman-teman saya itu, lulus dengan hasil terbaik versi mereka. Ada yang menang PKM, ada yang dapat beasiswa bermacam-macam, ada yang semakin mantap dengan pilihannya.

Mereka lulus dengan senyum lebar dalam posting instagram masing-masing. Begitu lebarnya hingga saya lupa mereka ternyata sama nasibnya dengan kita.

Begitu pula dengan saya, yang diberi banyak sekali bonus tambahan selama kuliah.

Sabar itu butuh waktu. Bukankah tidak ada doa, yang diucapkan dengan tulus, tidak dikabulkan oleh Dzat yang Maha Mendengar? 

Bisa jadi kita justru diberikan yang lebih baik. Atau jalan yang lebih panjang untuk menikmati perjalanan dan cerita-cerita perjuangan.

Kemarin malam, self evaluation ini semakin lengkap ketika saya buka gallery handphone saya dan menemukan nasihat menarik ini. Mungkin banyak orang yang sudah tahu mas ini.

IMG_1187.jpg

Sepertinya kemarin memang waktunya saya banyak-banyak bersyukur. Seringkali saya lupa, kita hanya diminta untuk bekerja sekeras-kerasnya, sekaligus berdoa sesering-seringnya.

Sedangkan Allah yang memberi petunjuk, kemana jalur terbaik untuk kita.

Allahu musta’an.
Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s