Tentang keputusan

Saya pun pernah galau. Gundah. Sehingga beberapa saat lalu saya memancing diskusi di salah satu grup WhatsApp saya,

Rek, pernahkah kalian merasa insecure?

Pertanyaan yang sederhana, namun terasa mengganggu waktu-waktu itu.

Perasaan insecure adalah perasaan gelisah, merasa tidak yakin atau anxious. Saya bukanlah orang yang mudah merasa insecure karena saya merasa punya idealisme yang cukup. Tetapi setelah lulus kuliah dan ditabrakkan dengan kenyataan ini-itu, ternyata perlahan, dinding tebal itu goyah juga.

Lanjutkan membaca “Tentang keputusan”

Iklan

Tentang Rezeki

Semenjak kelulusan beberapa bulan lalu, banyak nasihat bijak seolah-olah ditujukan kepada saya. Saya tau sih, kadang-kadang itu guyon, kadang juga serius. Tapi untungnya orang tua saya termasuk orang kalem. Jadi tidak gampang kepancing karena sudah satu frekuensi. Haha

Ketika ada acara keluarga tadi siang, saya pun (lagi-lagi) dikasih petuah. Tapi rasanya berbeda. Efeknya terasa sampek sekarang dan mungkin sampek masa-masa kedepan. Mungkin karena yang menyampaikan anak dari budhe saya sendiri, jadi seakan-akan tahu kondisi sekarang.

Lanjutkan membaca “Tentang Rezeki”

Jalan yang panjang

Sebagai orang Islam, ada satu hal yang sangat sederhana implementasinya, namun cukup lama juga jalan ibadahnya. Namanya sabar.

Kemarin malam, teman saya menuliskan sesuatu di caption instagramnya

Tentang kampus ini.
Dulunya saya tak pernah membayangkan akan kuliah di sini. Di kampus ternama inginnya. SNMPTN nekad ambil lintas jalur, IPA nyebrang ke IPS, ambil univ ternama. Gagal. .. Dan kemudian mencoba meluruskan niat lagi. Inget dulu almarhum bapak bilang, kuliah di IAIN Surabaya saja, biar enak dekat. Kemudian ibuk juga bilang, Intinya golek ilmu. SBMPTN langsung ambil pilihan pertama di Ekonomi Syariah IAIN Sunan Ampel. Dulunya masih IAIN. Dulunya agak malu juga ngakuin kuliah di sini. Dulu kampusnya masih jauh banget dari yg nampak sekarang. Kuno, lawas. .. Namun, memang Allah paling tahu menata hambaNya. Saya di sini banyak belajar. Tak hanya ilmu kuliah, saya punya kesempatan lebih untuk belajar usaha, organisasi, dan banyak lainnya. Banyak belajar agama di pakarnya.
Dan memang, Allah selalu memberikan jalan terbaik. Saya berkembang pesat di sini. Alhamdulillah punya banyak kesempatan. Dan alhamdulillah, masih diberikan kesempatan untuk lanjut di sini, lanjut magister sambil bantu ngajar mata kuliah. .. Ada satu pembelajaran yg sangat kuat saya dapat di sini, di manapun tempatnya, asal kamu memberikan energi besar di dalamnya, maka hal positif akan menjadi jawabnya ^^

Saya terdiam beberapa saat dan mulai menuliskan jawaban yang cukup panjang juga, berterima kasih karena ternyata saya tidak sendiri.

Ternyata kita berada di circle yang sama.

Lanjutkan membaca “Jalan yang panjang”

Ayah, ibuk dan pendidikan

Di hari pendidikan ini, izinkan saya bicara pendidikan sejenak.

Saya pikir pendidikan adalah nafas keluarga saya. Kedua orangtua saya adalah guru. Guru SMP dan SMA. Sejak kecil, sekitar umur 5 tahun, saya ingat sekali saat saya sering menangis ketika ditinggal ayah maupun ibuk saya untuk mengajar, yang ujung-ujungnya saya harus “ditipu” agar mereka bisa mengajar. Waktu itu, keduanya mengajar di tempat yang sama, SMK Maarif, sekolah swasta yang kisah mirip-mirip laskar pelangi: kekurangan murid. Meski perbedaanya pun jauh. Di kisah Laskar Pelangi, anak-anaknya dikenal cerdas. Di SMK Maarif ini bagian cerdasnya menghilang.

Salah satu cerita yang sering diulang-ulang ayah saya adalah, betapa keras perjuangannya untuk kuliah.

Lanjutkan membaca “Ayah, ibuk dan pendidikan”

Segelas cokelat dan tugas akhir

Hari ini, saya mulai lagi aktivitas yang sudah saya ceritakan panjang lebar di sini dan sini. Sebenernya rasa males itu masih ada sih, tapi kalau tidak dilawan, sepertinya juga nggak bakala mulai-mulai.

Karena permulaan itu yang paling susah.

Jadi saya paksakan saja buka terminal, login ke komputer server dan mulai ngoding dikit-dikit. Saya mulai dari mengingat catatan tugas akhir kemarin dan menjelajahi history apa saja yang ada di server saya.

Untungnya kemarin waktu belanja makanan saya nemu cokelat bubuk. Cukup murah juga, 2000 rupiah per sachetnya. Akhirnya saya seduh juga itu cokelat, itung-itung nemani di tengah dinginnya lab jaringan.

IMG_20170405_213823.jpg
Segelas cokelat dan sedikit bocoran tugas akhir saya

Dan ternyata enak juga tuh. Meski cokelat generik (saya tau ini cokelat “oplosan”, alias cuma sekian persen aja yang dari cokelat. Lainnya gula. Haha) tapi jempol juga buat diminum pengganti kopi. 👍

Asyiknya, kemarin saya beli agak banyak. Jadi stok minuman saya bakal aman untuk beberapa hari. Kayaknya sih, cokelat serbuk ini bakalan cepet habis di tokonya.

Mau?

Hal yang baru

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya mendekat sambil menanyakan sesuatu yang saya sendiri nggak kepikiran, “Eh, blog kamu kok kosong? Baru dihapus ya kontennya?”. Saya sendiri kaget. Barangkali waktu itu dia kepo lihat profil twitter saya, dan nge-klik URL yang ada disana.

Waktu itu saya cuma jawab sekenanya, “ya pengen aja” sambil nyengir pergi. Sebenarnya ada alasan-alasan filosofis dibaliknya. Iya, filosofis, karena emang berat alasannya. Haha

Lanjutkan membaca “Hal yang baru”