Ayah, ibuk dan pendidikan

Di hari pendidikan ini, izinkan saya bicara pendidikan sejenak.

Saya pikir pendidikan adalah nafas keluarga saya. Kedua orangtua saya adalah guru. Guru SMP dan SMA. Sejak kecil, sekitar umur 5 tahun, saya ingat sekali saat saya sering menangis ketika ditinggal ayah maupun ibuk saya untuk mengajar, yang ujung-ujungnya saya harus “ditipu” agar mereka bisa mengajar. Waktu itu, keduanya mengajar di tempat yang sama, SMK Maarif, sekolah swasta yang kisah mirip-mirip laskar pelangi: kekurangan murid. Meski perbedaanya pun jauh. Di kisah Laskar Pelangi, anak-anaknya dikenal cerdas. Di SMK Maarif ini bagian cerdasnya menghilang.

Salah satu cerita yang sering diulang-ulang ayah saya adalah, betapa keras perjuangannya untuk kuliah.

Lanjutkan membaca “Ayah, ibuk dan pendidikan”

Segelas cokelat dan tugas akhir

Hari ini, saya mulai lagi aktivitas yang sudah saya ceritakan panjang lebar di sini dan sini. Sebenernya rasa males itu masih ada sih, tapi kalau tidak dilawan, sepertinya juga nggak bakala mulai-mulai.

Karena permulaan itu yang paling susah.

Jadi saya paksakan saja buka terminal, login ke komputer server dan mulai ngoding dikit-dikit. Saya mulai dari mengingat catatan tugas akhir kemarin dan menjelajahi history apa saja yang ada di server saya.

Untungnya kemarin waktu belanja makanan saya nemu cokelat bubuk. Cukup murah juga, 2000 rupiah per sachetnya. Akhirnya saya seduh juga itu cokelat, itung-itung nemani di tengah dinginnya lab jaringan.

IMG_20170405_213823.jpg
Segelas cokelat dan sedikit bocoran tugas akhir saya

Dan ternyata enak juga tuh. Meski cokelat generik (saya tau ini cokelat “oplosan”, alias cuma sekian persen aja yang dari cokelat. Lainnya gula. Haha) tapi jempol juga buat diminum pengganti kopi. 👍

Asyiknya, kemarin saya beli agak banyak. Jadi stok minuman saya bakal aman untuk beberapa hari. Kayaknya sih, cokelat serbuk ini bakalan cepet habis di tokonya.

Mau?

Hal yang baru

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya mendekat sambil menanyakan sesuatu yang saya sendiri nggak kepikiran, “Eh, blog kamu kok kosong? Baru dihapus ya kontennya?”. Saya sendiri kaget. Barangkali waktu itu dia kepo lihat profil twitter saya, dan nge-klik URL yang ada disana.

Waktu itu saya cuma jawab sekenanya, “ya pengen aja” sambil nyengir pergi. Sebenarnya ada alasan-alasan filosofis dibaliknya. Iya, filosofis, karena emang berat alasannya. Haha

Lanjutkan membaca “Hal yang baru”