Media sosial yang secukupnya

Ada satu hal yang saya ingat kuat-kuat ketika saya berada di tahun kedua kuliah saya dulu, tentang bermedia sosial. Bahwa tidak semua bisa disampaikan dengan tulisan.

Kakak tingkat saya pernah memanggil saya untuk membicarakan sesuatu hal. Jika saya ada di posisinya, saya pikir hal tersebut bisa disampaikan lewat pesan singkat. Namun tidak. Ia memilih membicarakannya empat mata dengan saya.

Ketika saya tiba, ternyata bahasannya cukup berat. Ia tahu bahwa saya penasaran, kenapa tidak disampaikan lewat WhatsApp saja hal ini?

Dan beginilah jawabannya.

Saya gak mau kamu salah paham. Makanya saya panggil kamu, buat dengar penjelasan yang full. Saya gak mau nelpon juga, karena hal ini riskan sekali jika disampaikan lewat WA atau telepon sekalipun. Dengan begini, kamu bisa lihat ekspresi, intonasi bahkan gestur saya. 

Dan ternyata, saya baru merasakan manfaatnya ketika ada di posisinya.

Dengan bertatap muka, kita akan meminimalisir kesalahpahaman. Komunikasi manusia itu kompleks. Kadang tak bisa disederhanakan melalui lisan dan tulisan. Kadang kita harus bertemu untuk menyampaikan suatu kepentingan dengan hati-hati dan memahami konteks yang ada.

Begitu pula dengan media sosial.

Beberapa hal yang gak saya suka dari media sosial adalah anonimitas dan tidak ada batasan. Yah, dengan anonimitas setiap orang merasa berhak mengomentari segala hal. Dan tanpa batasan, sebuah diskusi akan berujung debat kusir tak berkesudahan.

Saya sendiri sudah berusaha meminimalisir interaksi secara online. Jadi ketika bisa ketemuan, saya usahakan ketemu, untuk membahas hal apapun itu. Alasannya ya itu. Media sosial kadang bikin suatu yang lurus-lurus saja jadi kusut.

Lagian sebagai seorang muslim, saya percaya bahwa dunia ini cuma main-main. Lalu gimana dengan media sosial?

Iya, cucunya main-main.

Jadi mari bermedia sosial secukupnya saja.

Iklan

Kenapa orang Quraisy mengatakan “Demi Allah”?

Dulu ketika saya membaca suatu teks entah itu di buku maupun hadits-hadits, saya menemui suatu bahwa orang kafir Quraisy berkata seperti ini,

“Demi Allah, aku akan melakukan sesuatu kepada si fulan!”

Itupun tidak satu dua kali. Berkali-kali saya menemukan teks tersebut. Saya mengernyit dan penasaran: bukankah mereka adalah seorang musyrik, yang menurut akal sehat saya tidak mengenal Allah?

Lanjutkan membaca “Kenapa orang Quraisy mengatakan “Demi Allah”?”

Jalan yang panjang

Sebagai orang Islam, ada satu hal yang sangat sederhana implementasinya, namun cukup lama juga jalan ibadahnya. Namanya sabar.

Kemarin malam, teman saya menuliskan sesuatu di caption instagramnya

Tentang kampus ini.
Dulunya saya tak pernah membayangkan akan kuliah di sini. Di kampus ternama inginnya. SNMPTN nekad ambil lintas jalur, IPA nyebrang ke IPS, ambil univ ternama. Gagal. .. Dan kemudian mencoba meluruskan niat lagi. Inget dulu almarhum bapak bilang, kuliah di IAIN Surabaya saja, biar enak dekat. Kemudian ibuk juga bilang, Intinya golek ilmu. SBMPTN langsung ambil pilihan pertama di Ekonomi Syariah IAIN Sunan Ampel. Dulunya masih IAIN. Dulunya agak malu juga ngakuin kuliah di sini. Dulu kampusnya masih jauh banget dari yg nampak sekarang. Kuno, lawas. .. Namun, memang Allah paling tahu menata hambaNya. Saya di sini banyak belajar. Tak hanya ilmu kuliah, saya punya kesempatan lebih untuk belajar usaha, organisasi, dan banyak lainnya. Banyak belajar agama di pakarnya.
Dan memang, Allah selalu memberikan jalan terbaik. Saya berkembang pesat di sini. Alhamdulillah punya banyak kesempatan. Dan alhamdulillah, masih diberikan kesempatan untuk lanjut di sini, lanjut magister sambil bantu ngajar mata kuliah. .. Ada satu pembelajaran yg sangat kuat saya dapat di sini, di manapun tempatnya, asal kamu memberikan energi besar di dalamnya, maka hal positif akan menjadi jawabnya ^^

Saya terdiam beberapa saat dan mulai menuliskan jawaban yang cukup panjang juga, berterima kasih karena ternyata saya tidak sendiri.

Ternyata kita berada di circle yang sama.

Lanjutkan membaca “Jalan yang panjang”

Mengkritisi suatu yang ilmiah

Bismillahirrahmanirrahiim.

Baru saja saya membaca catatan Dr. Adian Husaini dalam linimasa Facebook saya. Tercatat baru 50 menit yang lalu ketika tulisan ini dibuat, beliau menuliskan opini menariknya tentang “Tuhan Banyak Agama, Pandangan Sufistik Ibn ‘Arabi, Rumi dan al-Jili” (Mizan, 2011).

Bagi yang Belum tahu Dr. Adiah Husaini, beliau adalah seorang doktor yang sering sekali mengkritisi konsep sekulerisme, plurasime dan liberalisme di Indonesia. Kolom rutinnya di hidayatullah.com pun menarik sekali. Renyah, gayeng, namun tetap ilmiah.

Namun dari semua tulisan beliau, saya kagum dengan satu hal: konsistensi kritik ilmiah.

Lanjutkan membaca “Mengkritisi suatu yang ilmiah”

“There are two types of person”…

… as one of my best mate said, while she was typing at her phone and squinting at me. “There are people who’s trying to make as much friends as they can, while others are not”. I listened lazily and keep staring at my phone to gain a perfect score in Angry Bird game.

“But don’t get me wrong. Those with a little friends are usually have a deepest connection, and value their friends so much”

Now she got my attention. I must admit that I admire her despite we had a lot of debates at the same time.

Lanjutkan membaca ““There are two types of person”…”

Orang Asing

Seorang Bapak tiba-tiba mendekati saya sembari lirik-lirik ke handphone saya. Ia memakai rompi khas petugas parkir. Kebetulan saya lagi membuka feed Instagram sambil istirahat di Hutan Kota, setelah lari keliling daerah situ sore tadi.

“Mas, hapenya baru ya”, sahutnya setelah saya awali dengan nanya “Ada apa pak?”

“Ah, ndak pak, udah lama. Sejak dari 2015″, jawab saya.

“Berapaan tuh mas?”, sambil tiba-tiba mengambil hape di tangan saya. Padahal headset saya pun masih terpasang di hape itu.

“Dulu sih, 2 jutaan pak”, jawab saya sekenanya.

Dan kemudian percakapan pun berlanjut tentang satu-dua hal sebelum saya jalan kaki pulang ke rumah.

Di jalan, saya jadi terpikir sesuatu. Rasanya, konsep “orang asing” cukup asing di kebudayaan Jawa*. Semua adalah sedulur, dan sah-sah saja menyapa orang secara random di tengah jalan.

Lanjutkan membaca “Orang Asing”

Contextual learning

Kemarin malam, saya baru saja merampungkan tulisan saya tentang topik yang agak berat tentang analisa statistik suatu berita. Pakai markdown pula. Fyuh…

Saya bersyukur tulisan itu selesai dalam 4 jam, karena saya harus cross-check kesana kemari tentang analisa yang saya buat. Haha

Tepat setelah saya selesaikan tulisan itu, tiba-tiba saya sadar, kalau ternyata saya banyak sekali belajar dari contoh nyata. Bahasa ilmiahnya, contextual learning.

Lanjutkan membaca “Contextual learning”