Orang Asing

Seorang Bapak tiba-tiba mendekati saya sembari lirik-lirik ke handphone saya. Ia memakai rompi khas petugas parkir. Kebetulan saya lagi membuka feed Instagram sambil istirahat di Hutan Kota, setelah lari keliling daerah situ sore tadi.

“Mas, hapenya baru ya”, sahutnya setelah saya awali dengan nanya “Ada apa pak?”

“Ah, ndak pak, udah lama. Sejak dari 2015″, jawab saya.

“Berapaan tuh mas?”, sambil tiba-tiba mengambil hape di tangan saya. Padahal headset saya pun masih terpasang di hape itu.

“Dulu sih, 2 jutaan pak”, jawab saya sekenanya.

Dan kemudian percakapan pun berlanjut tentang satu-dua hal sebelum saya jalan kaki pulang ke rumah.

Di jalan, saya jadi terpikir sesuatu. Rasanya, konsep “orang asing” cukup asing di kebudayaan Jawa*. Semua adalah sedulur, dan sah-sah saja menyapa orang secara random di tengah jalan.

Lanjutkan membaca “Orang Asing”

Iklan

Contextual learning

Kemarin malam, saya baru saja merampungkan tulisan saya tentang topik yang agak berat tentang analisa statistik suatu berita. Pakai markdown pula. Fyuh…

Saya bersyukur tulisan itu selesai dalam 4 jam, karena saya harus cross-check kesana kemari tentang analisa yang saya buat. Haha

Tepat setelah saya selesaikan tulisan itu, tiba-tiba saya sadar, kalau ternyata saya banyak sekali belajar dari contoh nyata. Bahasa ilmiahnya, contextual learning.

Lanjutkan membaca “Contextual learning”

Titik jenuh

 

Kemarin, iseng-iseng saya ngetwit ini.

Saya teringat sebuah teori di kelas ekonomi sewaktu saya SMA dulu yang rasanya cocok sekali dengan kondisi saya saat ini. Yah, meski saya dulu sering tidur-tiduran waktu diajar ekonomi di kelas satu SMA (hingga pernah diusir keluar, serius!), namun ada beberapa poin yang menurut saya menarik di pelajaran itu.

Namanya penggunaan marginal, atau marginal utility.

Lanjutkan membaca “Titik jenuh”

Teman yang “secukupnya”

Sudah sadar kalau sosial media bikin stress?

Belakangan saya sedang menurunkan tingkat “stress” gara-gara teman di media sosial saya dengan berbagai cara. Mulai dari mengurangi untuk buka facebook, mengeblok topik-topik tertentu sampai lebih banyak berkegiatan di dunia nyata daripada sebelumnya.

Salah satu yang paling menyebalkan adalah akun facebook yang dipenuhi debat kusir tak berkesudahan. Banyak orang tiba-tiba paham betul tentang “topik itu” dan akhirnya membuat analisa yang kadang tak masuk diakal.

Lanjutkan membaca “Teman yang “secukupnya””