Kenapa orang Quraisy mengatakan “Demi Allah”?

Dulu ketika saya membaca suatu teks entah itu di buku maupun hadits-hadits, saya menemui suatu bahwa orang kafir Quraisy berkata seperti ini,

“Demi Allah, aku akan melakukan sesuatu kepada si fulan!”

Itupun tidak satu dua kali. Berkali-kali saya menemukan teks tersebut. Saya mengernyit dan penasaran: bukankah mereka adalah seorang musyrik, yang menurut akal sehat saya tidak mengenal Allah?

Lanjutkan membaca “Kenapa orang Quraisy mengatakan “Demi Allah”?”

Iklan

Jalan yang panjang

Sebagai orang Islam, ada satu hal yang sangat sederhana implementasinya, namun cukup lama juga jalan ibadahnya. Namanya sabar.

Kemarin malam, teman saya menuliskan sesuatu di caption instagramnya

Tentang kampus ini.
Dulunya saya tak pernah membayangkan akan kuliah di sini. Di kampus ternama inginnya. SNMPTN nekad ambil lintas jalur, IPA nyebrang ke IPS, ambil univ ternama. Gagal. .. Dan kemudian mencoba meluruskan niat lagi. Inget dulu almarhum bapak bilang, kuliah di IAIN Surabaya saja, biar enak dekat. Kemudian ibuk juga bilang, Intinya golek ilmu. SBMPTN langsung ambil pilihan pertama di Ekonomi Syariah IAIN Sunan Ampel. Dulunya masih IAIN. Dulunya agak malu juga ngakuin kuliah di sini. Dulu kampusnya masih jauh banget dari yg nampak sekarang. Kuno, lawas. .. Namun, memang Allah paling tahu menata hambaNya. Saya di sini banyak belajar. Tak hanya ilmu kuliah, saya punya kesempatan lebih untuk belajar usaha, organisasi, dan banyak lainnya. Banyak belajar agama di pakarnya.
Dan memang, Allah selalu memberikan jalan terbaik. Saya berkembang pesat di sini. Alhamdulillah punya banyak kesempatan. Dan alhamdulillah, masih diberikan kesempatan untuk lanjut di sini, lanjut magister sambil bantu ngajar mata kuliah. .. Ada satu pembelajaran yg sangat kuat saya dapat di sini, di manapun tempatnya, asal kamu memberikan energi besar di dalamnya, maka hal positif akan menjadi jawabnya ^^

Saya terdiam beberapa saat dan mulai menuliskan jawaban yang cukup panjang juga, berterima kasih karena ternyata saya tidak sendiri.

Ternyata kita berada di circle yang sama.

Lanjutkan membaca “Jalan yang panjang”

Mengkritisi suatu yang ilmiah

Bismillahirrahmanirrahiim.

Baru saja saya membaca catatan Dr. Adian Husaini dalam linimasa Facebook saya. Tercatat baru 50 menit yang lalu ketika tulisan ini dibuat, beliau menuliskan opini menariknya tentang “Tuhan Banyak Agama, Pandangan Sufistik Ibn ‘Arabi, Rumi dan al-Jili” (Mizan, 2011).

Bagi yang Belum tahu Dr. Adiah Husaini, beliau adalah seorang doktor yang sering sekali mengkritisi konsep sekulerisme, plurasime dan liberalisme di Indonesia. Kolom rutinnya di hidayatullah.com pun menarik sekali. Renyah, gayeng, namun tetap ilmiah.

Namun dari semua tulisan beliau, saya kagum dengan satu hal: konsistensi kritik ilmiah.

Lanjutkan membaca “Mengkritisi suatu yang ilmiah”

“There are two types of person”…

… as one of my best mate said, while she was typing at her phone and squinting at me. “There are people who’s trying to make as much friends as they can, while others are not”. I listened lazily and keep staring at my phone to gain a perfect score in Angry Bird game.

“But don’t get me wrong. Those with a little friends are usually have a deepest connection, and value their friends so much”

Now she got my attention. I must admit that I admire her despite we had a lot of debates at the same time.

Lanjutkan membaca ““There are two types of person”…”

Orang Asing

Seorang Bapak tiba-tiba mendekati saya sembari lirik-lirik ke handphone saya. Ia memakai rompi khas petugas parkir. Kebetulan saya lagi membuka feed Instagram sambil istirahat di Hutan Kota, setelah lari keliling daerah situ sore tadi.

“Mas, hapenya baru ya”, sahutnya setelah saya awali dengan nanya “Ada apa pak?”

“Ah, ndak pak, udah lama. Sejak dari 2015″, jawab saya.

“Berapaan tuh mas?”, sambil tiba-tiba mengambil hape di tangan saya. Padahal headset saya pun masih terpasang di hape itu.

“Dulu sih, 2 jutaan pak”, jawab saya sekenanya.

Dan kemudian percakapan pun berlanjut tentang satu-dua hal sebelum saya jalan kaki pulang ke rumah.

Di jalan, saya jadi terpikir sesuatu. Rasanya, konsep “orang asing” cukup asing di kebudayaan Jawa*. Semua adalah sedulur, dan sah-sah saja menyapa orang secara random di tengah jalan.

Lanjutkan membaca “Orang Asing”

Contextual learning

Kemarin malam, saya baru saja merampungkan tulisan saya tentang topik yang agak berat tentang analisa statistik suatu berita. Pakai markdown pula. Fyuh…

Saya bersyukur tulisan itu selesai dalam 4 jam, karena saya harus cross-check kesana kemari tentang analisa yang saya buat. Haha

Tepat setelah saya selesaikan tulisan itu, tiba-tiba saya sadar, kalau ternyata saya banyak sekali belajar dari contoh nyata. Bahasa ilmiahnya, contextual learning.

Lanjutkan membaca “Contextual learning”

Titik jenuh

 

Kemarin, iseng-iseng saya ngetwit ini.

Saya teringat sebuah teori di kelas ekonomi sewaktu saya SMA dulu yang rasanya cocok sekali dengan kondisi saya saat ini. Yah, meski saya dulu sering tidur-tiduran waktu diajar ekonomi di kelas satu SMA (hingga pernah diusir keluar, serius!), namun ada beberapa poin yang menurut saya menarik di pelajaran itu.

Namanya penggunaan marginal, atau marginal utility.

Lanjutkan membaca “Titik jenuh”