Mengkritisi suatu yang ilmiah

Bismillahirrahmanirrahiim.

Baru saja saya membaca catatan Dr. Adian Husaini dalam linimasa Facebook saya. Tercatat baru 50 menit yang lalu ketika tulisan ini dibuat, beliau menuliskan opini menariknya tentang “Tuhan Banyak Agama, Pandangan Sufistik Ibn ‘Arabi, Rumi dan al-Jili” (Mizan, 2011).

Bagi yang Belum tahu Dr. Adiah Husaini, beliau adalah seorang doktor yang sering sekali mengkritisi konsep sekulerisme, plurasime dan liberalisme di Indonesia. Kolom rutinnya di hidayatullah.com pun menarik sekali. Renyah, gayeng, namun tetap ilmiah.

Namun dari semua tulisan beliau, saya kagum dengan satu hal: konsistensi kritik ilmiah.

Lanjutkan membaca “Mengkritisi suatu yang ilmiah”

Iklan

“There are two types of person”…

… as one of my best mate said, while she was typing at her phone and squinting at me. “There are people who’s trying to make as much friends as they can, while others are not”. I listened lazily and keep staring at my phone to gain a perfect score in Angry Bird game.

“But don’t get me wrong. Those with a little friends are usually have a deepest connection, and value their friends so much”

Now she got my attention. I must admit that I admire her despite we had a lot of debates at the same time.

Lanjutkan membaca ““There are two types of person”…”

Kembali lagi

Sepertinya, saya punya love-hate relationship dengan wordpress. Dulu saya sudah berkomitmen untuk menulis lebih rajin lagi. Eh, ternyata meleset.

Sebenarnya saya punya beberapa excuse untuk ini. Tapi, biarlah sekedar jadi evaluasi saya pribadi buat saja. Ada banyaak sekali hal-hal yang bisa ditulis, tapi yah, males mengalahkan segalanya. Padahal saya juga tidak sibuk-sibuk amat. Setidaknya tidak sesibuk pak Budi Rahardjo yang masih bisa rutin menulis walau jadwalnya seabrek.

Memang bener kali ya, start is hard, but commitment is harder. Hahaha

Orang Asing

Seorang Bapak tiba-tiba mendekati saya sembari lirik-lirik ke handphone saya. Ia memakai rompi khas petugas parkir. Kebetulan saya lagi membuka feed Instagram sambil istirahat di Hutan Kota, setelah lari keliling daerah situ sore tadi.

“Mas, hapenya baru ya”, sahutnya setelah saya awali dengan nanya “Ada apa pak?”

“Ah, ndak pak, udah lama. Sejak dari 2015″, jawab saya.

“Berapaan tuh mas?”, sambil tiba-tiba mengambil hape di tangan saya. Padahal headset saya pun masih terpasang di hape itu.

“Dulu sih, 2 jutaan pak”, jawab saya sekenanya.

Dan kemudian percakapan pun berlanjut tentang satu-dua hal sebelum saya jalan kaki pulang ke rumah.

Di jalan, saya jadi terpikir sesuatu. Rasanya, konsep “orang asing” cukup asing di kebudayaan Jawa*. Semua adalah sedulur, dan sah-sah saja menyapa orang secara random di tengah jalan.

Lanjutkan membaca “Orang Asing”

Ayah, ibuk dan pendidikan

Di hari pendidikan ini, izinkan saya bicara pendidikan sejenak.

Saya pikir pendidikan adalah nafas keluarga saya. Kedua orangtua saya adalah guru. Guru SMP dan SMA. Sejak kecil, sekitar umur 5 tahun, saya ingat sekali saat saya sering menangis ketika ditinggal ayah maupun ibuk saya untuk mengajar, yang ujung-ujungnya saya harus “ditipu” agar mereka bisa mengajar. Waktu itu, keduanya mengajar di tempat yang sama, SMK Maarif, sekolah swasta yang kisah mirip-mirip laskar pelangi: kekurangan murid. Meski perbedaanya pun jauh. Di kisah Laskar Pelangi, anak-anaknya dikenal cerdas. Di SMK Maarif ini bagian cerdasnya menghilang.

Salah satu cerita yang sering diulang-ulang ayah saya adalah, betapa keras perjuangannya untuk kuliah.

Lanjutkan membaca “Ayah, ibuk dan pendidikan”

Write or not to write

My head was full of ideas lately. I don’t where it comes, but it’s blooming inside my mind for a whole week. I’d like to write all books I had read. Some time later, my fingers are itchy to write down my joyful experiences.

But when I’m looking at my to do list, I always shouted “why????” to how many things I have to do.

So, it’s all about myself to decide, to write or not.

Kudos for myself. 💪